Hiking Mount Rinjani

Antisipasi Tersesat Di Gunung Lakukan Ini Untuk Bertahan Hidup

Antisipasi Tersesat Di Gunung? Lakukan Ini Untuk Bertahan Hidup

Tersesat Di Gunung – Mendaki gunung selalu menawarkan dua sisi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, ada rasa tenang, pencapaian, dan koneksi dengan alam. Di sisi lain, ada risiko nyata yang tidak bisa diabaikan. Beberapa waktu terakhir, berita tentang pendaki yang meninggal dunia, hilang, atau tersesat di gunung semakin sering muncul. Kondisi ini wajar membuat banyak calon pendaki merasa cemas, bahkan takut sebelum memulai perjalanan.

Rasa takut tersebut sebenarnya bukan hal buruk. Justru, rasa khawatir adalah alarm alami agar kita lebih siap dan tidak meremehkan alam. Salah satu skenario terburuk yang paling ditakuti pendaki adalah tersesat di gunung. Banyak orang membayangkan situasi ini sebagai akhir segalanya: kehabisan logistik, tidak tahu arah, dan sendirian di tengah hutan.

Padahal, dalam banyak kasus, tersesat bukanlah vonis kematian. Kesalahan fatal biasanya bukan karena kondisi alam semata, melainkan keputusan yang keliru setelah seseorang sadar bahwa dirinya tersesat. 

Kalau Tersesat Di Gunung? Lakukan Ini Untuk Bertahan

Tidak ada orang yang ingin tersesat, tapi hal seperti ini bisa terjadi pada siapapun. Sebagai antisipasi, hikingmountrinjani.com akan membahas apa saja yang harus dilakukan jika kamu tersesat di gunung. 

Informasi ini bukan berdasarkan mitos survival ala film, tetapi dari pola kasus nyata dan pendekatan yang relevan menurut pihak berwenang terhadap karakter gunung-gunung di Indonesia. Apa saja?

1. Jangan Ikuti Sungai

Tersesat Di Gunung
Jangan ikuti sungai

Salah satu mitos survival paling populer adalah anjuran untuk mengikuti aliran air jika tersesat. Logikanya terdengar masuk akal: air mengalir ke bawah, dan di bawah pasti ada kehidupan manusia. Namun, di konteks gunung-gunung Indonesia, terutama gunung berapi yang curam, prinsip ini justru bisa menjadi kesalahan fatal.

Banyak sungai di gunung berapi membentuk lembah sempit dengan kontur V-Shape. Jalur ini dikenal oleh tim SAR sebagai “The Waterfall Trap”. Pendaki yang mengikuti aliran sungai sering kali akan berakhir di hadapan curug atau air terjun setinggi puluhan meter. Di titik ini, mereka tidak bisa turun karena terlalu curam, dan tidak bisa naik kembali karena dinding batu licin, berlumut, dan minim pegangan.

Bayangkan situasinya: tubuh lelah, pakaian basah, udara dingin menusuk, dan ruang gerak semakin sempit. Secara psikologis, kondisi ini memicu kepanikan ekstrem. Secara fisik, lembah sungai adalah tempat terburuk untuk bertahan hidup. Udara dingin selalu turun ke titik terendah, kelembapan tinggi mempercepat hilangnya panas tubuh, dan risiko hipotermia meningkat drastis. Bahkan hingga sepuluh kali lebih cepat dibandingkan berada di punggungan terbuka.

Selain itu, suara gemuruh air akan meredam peluit, teriakan, atau bunyi alat sinyal darurat. Tim SAR bahkan mengategorikan lembah sungai sebagai blank spot karena visibilitas udara sangat buruk dan sinyal komunikasi hampir pasti mati total. Alih-alih mempermudah pertolongan, mengikuti sungai justru membuat pendaki semakin terisolasi.

2. Cari Punggungan (Ridgeline)

Cari tempat terbuka

Jika Kamu tersesat di gunung, prinsip utama yang perlu dipegang adalah mencari posisi tinggi, bukan turun tanpa arah. Naik menuju punggungan atau ridgeline adalah langkah strategis untuk memperbesar peluang bertahan dan ditemukan.

Gunung memiliki karakter unik: semakin ke atas, radius wilayahnya semakin sempit. Artinya, area pencarian juga semakin kecil. Di punggungan, Kamu memiliki banyak keuntungan.

Pertama, visibilitas jauh lebih baik. Dari udara, tim SAR akan lebih mudah melihat pergerakan, warna pakaian, atau sinyal lain yang tampak seperti jas hujan cerah dan groundsheet.

Kedua, peluang mendapatkan sinyal komunikasi jauh lebih besar di titik terbuka dan tinggi. Banyak kasus pendaki yang berhasil mengirim pesan darurat hanya karena mereka berpindah dari lembah ke punggungan. Ketiga, sinar matahari langsung membantu menjaga suhu tubuh dan menurunkan risiko hipotermia.

Dalam konteks survival modern di Indonesia, fokus utama bukan lagi mencari air seperti di film-film petualangan, melainkan mencari keterlihatan (visibilitas). Air bisa dicari setelah posisi aman didapat, tetapi tanpa visibilitas, peluang ditemukan akan menurun drastis.

.

Baca juga: 5 Tips Untuk Pendaki Pemula Wanita Anti Drop Pas Naik Gunung

3. Tersesat di Gunung? Tenang dan Berhenti

Pemandu Rinjani Yang Sudah Seperti Keluarga - Hiking Mount Rinjani
Seperti Keluarga

Saat sadar bahwa Kamu tersesat di gunung, hal paling sulit, namun paling penting, adalah berhenti bergerak. Kepanikan sering mendorong pendaki untuk terus berjalan tanpa arah, berharap “nanti juga ketemu jalur”. Padahal, langkah tanpa rencana justru membuat posisi semakin jauh dari jalur pendakian dan memperluas area pencarian.

Berhentilah sejenak. Berhenti berarti mengendalikan situasi. Cari lokasi relatif aman untuk membuat shelter darurat, lindungi diri dari angin dan hujan, lalu baca kondisi sekitar. Dari titik ini, Kamu perlu “menembak” punggungan terbuka, dalam arti menentukan arah tujuan yang jelas dan masuk akal, bukan berjalan asal.

Idealnya, bertahanlah di satu titik maksimal dua hari. Pada hari ketiga, jika terpaksa berpindah, tinggalkan jejak yang jelas: tanda di tanah, susunan ranting, atau potongan vegetasi yang mengarah ke tujuan Kamu. Ingat, tim SAR Indonesia sering melibatkan tim penjejak yang membaca tanda-tanda alami, bukan hanya mengandalkan teknologi.

4. Perkirakan Desa Terdekat dengan Bijak

Jika Kamu memiliki kemampuan membaca kompas, memahami orientasi medan, dan masih ingat arah datang, barulah opsi turun ke bawah bisa dipertimbangkan. Namun, ini bukan pilihan utama, melainkan opsi terakhir dengan perhitungan matang.

Prioritas awal tetap bertahan di tempat aman, selama masih ada sumber air dan sisa makanan. Setelah pikiran lebih jernih dan tenaga kembali, barulah bergerak. Banyak pendaki yang akhirnya selamat karena bertemu warga lokal yang sedang mencari rumput, kayu bakar, atau berburu di sekitar gunung.

Meski demikian, turun ke bawah tidak selalu direkomendasikan. Vegetasi di bagian bawah gunung biasanya jauh lebih rapat: semak belukar, ilalang tinggi, akar pohon, dan medan yang tidak ramah pergerakan. Area ini juga sangat luas, sehingga risiko tersesat semakin besar. Sebaliknya, semakin ke atas, vegetasi cenderung lebih terbuka dan area pencarian lebih sempit.

5. Naik Lalu Turun

Cara Bertahan Hidup Saat Tersesat Di Gunung
Rinjani via Torean

Strategi yang sering terbukti efektif adalah naik terlebih dahulu, lalu turun dengan arah yang jelas. Dari posisi tinggi, bahkan dari dekat puncak, Kamu bisa mengamati kontur jalur, lembah, dan kemungkinan akses keluar. Banyak jalur resmi justru terlihat jelas dari atas, bukan dari dalam hutan.

Prinsip ini menegaskan kembali bahwa langkah awal saat tersesat di gunung adalah mengambil posisi tinggi. Setelah orientasi kembali didapat, barulah keputusan turun diambil dengan penuh kesadaran.

.

Baca juga: Mau Trekking? Inilah 6 Posisi Pendaki Gunung yang Harus Dibagi

Antisipasi Tersesat di Gunung, Sebaiknya Bareng Trekking Organizer

Trekking Organizer Rinjani
Trekking Organizer Rinjani

Selain memahami strategi bertahan hidup, langkah paling bijak adalah mencegah tersesat sejak awal. Salah satu cara terbaik, terutama bagi pendaki pemula atau mereka yang belum percaya diri dengan navigasi, adalah mendaki bersama trekking organizer profesional.

Di Gunung Rinjani, misalnya, tersedia banyak trekking organizer yang membantu pendaki naik dan turun dengan aman. Menggunakan jasa pemandu bukan berarti kamu lebay atau manja, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri dan tim.

Salah satu pilihan yang tersedia adalah hikingmountrinjani.com, yang menyediakan layanan pendakian lengkap. Mulai dari perencanaan itinerary, pemilihan jalur naik dan turun, hingga logistik dan pendampingan selama pendakian, semuanya disiapkan secara profesional. Setelah pendakian selesai, tim juga akan mengantar Kamu ke tujuan berikutnya, termasuk bandara atau pelabuhan untuk perjalanan pulang.

Membayar sedikit lebih mahal untuk keamanan dan ketenangan jauh lebih bijak dibandingkan mempertaruhkan keselamatan karena merasa “bisa sendiri”. Gunung tidak pernah salah, tetapi manusia seringkali terlalu percaya diri.

Utamakan keselamatan ya!

.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *