Gunung Yang Tidak Cocok Untuk Pemula – Bagi banyak orang, mendaki gunung terdengar seperti aktivitas yang romantis dan penuh pencapaian. Bangun pagi-pagi, berjalan di tengah hutan, menghirup udara dingin, lalu berdiri di puncak sambil melihat lautan awan. Semuanya tampak indah di foto dan video media sosial. Tidak heran jika banyak pemula tergoda menjadikan pendakian gunung sebagai petualangan pertamanya di alam bebas.
Namun, di balik keindahan tersebut, mendaki gunung adalah aktivitas yang menyimpan risiko serius. Medan berat, cuaca ekstrem, durasi trekking yang panjang, serta kondisi fisik dan mental yang belum terlatih bisa menjadi kombinasi berbahaya, terutama bagi pendaki pemula yang belum pernah naik gunung sama sekali.
Karena itu, sebelum memilih gunung pertama, penting untuk tahu satu hal: tidak semua gunung cocok untuk pemula. Ada beberapa gunung yang secara teknis, durasi, hingga risikonya terlalu tinggi untuk dijadikan pendakian pertama, seindah apa pun pemandangannya.
Artikel ini akan memberitahumu gunung yang tidak cocok untuk pemula, lengkap dengan alasan kenapa sebaiknya tidak dicoba dulu jika ini adalah pengalaman pertama kamu mendaki gunung. Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti, tapi justru untuk melindungi kamu dari risiko yang tidak perlu.
Top 3 Gunung Yang Tidak Cocok Untuk Pemula
Kalau ini pertama kali kamu naik gunung dan belum pernah sebelumnya, sebaiknya hindari gunung-gunung dalam daftar di bawah ini. Bukan karena gunungnya tidak indah, justru sebaliknya, semuanya luar biasa cantik. Tapi tingkat kesulitan dan risikonya bisa membuat pengalaman pertamamu berubah jadi trauma.
Bahkan, rekomendasi di bawah ini bisa saja “mendekatkan kamu pada Ilahi” dan lebih cocok untuk pemula yang ingin kenalan sama tim SAR—hehe. Jadi, apa saja gunung yang tidak cocok untuk pemula dan pendakian pertama? Ini daftarnya.
1. Gunung Halau-halau

Gunung Halau-halau terletak di Kalimantan Selatan dan dikenal sebagai salah satu gunung dengan karakter medan yang cukup ekstrem. Meski ketinggiannya tidak setinggi gunung-gunung besar di Pulau Jawa atau Nusa Tenggara, tingkat kesulitannya sama sekali tidak bisa dianggap enteng.
Salah satu tantangan utama Gunung Halau-halau adalah medannya yang sangat licin, terutama setelah hujan. Jalur pendakian didominasi tanah basah, akar pohon, dan vegetasi lebat. Bagi pendaki berpengalaman, kondisi ini sudah cukup menguras tenaga. Apalagi bagi pemula yang belum terbiasa mengatur pijakan dan keseimbangan di jalur hutan tropis.
Selain itu, lintah menjadi “penghuni setia” di gunung ini. Kamu bisa menemukannya di tanah, di daun-daun, bahkan menempel tanpa disadari di sepatu atau kaki. Untuk pendaki pemula yang belum terbiasa dengan kondisi hutan basah, pengalaman pertama bertemu lintah bisa sangat mengganggu mental dan konsentrasi.
Hal lain yang membuat Gunung Halau-halau makin tidak ramah pemula adalah keberadaan satwa liar, termasuk laporan tentang beruang. Walaupun jarang bertemu langsung, potensi ini tetap menjadi risiko serius. Pendaki harus memahami etika pendakian di habitat satwa liar, sesuatu yang biasanya belum dimiliki oleh pendaki pemula.
Dengan kombinasi medan licin, lintah, hutan lebat, dan risiko satwa liar, Gunung Halau-halau hanya cocok untuk pendaki berpengalaman yang memang ingin mencoba tantangan baru. Untuk pendakian pertama, gunung ini jelas bukan pilihan aman.
.
Baca juga: 5 Fakta Pendakian Gunung Rinjani – Ulasan Asli dari Para Pendaki
2. Gunung Rinjani

Gunung Rinjani terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, dengan ketinggian mencapai 3.726 mdpl. Gunung ini sering disebut sebagai salah satu gunung terindah di Indonesia, dengan Danau Segara Anak, panorama savana, dan pemandangan kawah yang luar biasa.
Namun, keindahan Rinjani datang bersama tantangan yang sangat besar—terutama bagi pemula.
Pendakian Gunung Rinjani umumnya dilakukan selama 3 hari, dengan jarak tempuh yang panjang dan elevasi yang terus naik-turun. Ini bukan sekadar soal kuat jalan kaki, tetapi juga soal daya tahan fisik, manajemen energi, dan kesiapan mental.
Risiko terbesar biasanya muncul saat menuju summit (puncak Rinjani). Jalurnya berupa pasir dan kerikil lepas, yang membuat satu langkah maju bisa tergelincir setengah langkah ke belakang. Ditambah lagi, angin yang sangat kencang serta suhu dingin yang menusuk tulang sering kali menjadi kejutan bagi pendaki yang belum pernah merasakan pendakian di atas 3.000 mdpl.
Bagi pemula, kondisi ini bisa sangat melelahkan dan berbahaya. Banyak kasus pendaki yang memaksakan diri ke summit akhirnya mengalami kelelahan ekstrem, hipotermia, atau bahkan harus dievakuasi. Jika dipaksakan, bukan tidak mungkin pengalaman pertama mendaki gunung justru membuat kamu tidak ingin naik gunung lagi seumur hidup. Dan lebih parahnya, berisiko merepotkan tim SAR.
Karena itulah, meskipun Rinjani sangat populer, gunung ini tetap masuk dalam kategori gunung yang tidak cocok untuk pemula, terutama untuk pendakian pertama tanpa pengalaman sama sekali.
3. Puncak Rantemario, Latimojong

Gunung Latimojong terletak di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, dan merupakan gunung tertinggi ke-5 dalam daftar Seven Summit Indonesia. Status ini saja sudah cukup menjadi peringatan awal bagi pendaki pemula.
Salah satu tantangan utama Gunung Latimojong adalah durasi trekking yang sangat panjang. Waktu tempuh menuju puncak bisa mencapai sekitar 11,5 jam—itu pun jika kondisi fisik benar-benar prima dan cuaca mendukung. Jalur yang panjang berarti kamu harus kuat berjalan berjam-jam dengan beban carrier, melewati hutan, tanjakan, dan jalur yang tidak selalu ramah.
Bagi pendaki pemula yang belum pernah mendaki gunung, durasi trekking sepanjang ini bisa menjadi mimpi buruk. Kelelahan, kram otot, dehidrasi, dan penurunan fokus sangat mungkin terjadi. Ketika fisik menurun, risiko kecelakaan pun meningkat.
Selain itu, jalur Gunung Latimojong tidak sepopuler gunung-gunung di Jawa, sehingga fasilitas dan akses evakuasi tidak selalu mudah. Ini membuat gunung ini tidak cocok untuk kamu yang belum pernah naik gunung sama sekali dan masih dalam tahap mengenal kemampuan diri sendiri.
Sebelum mendaki gunung-gunung di atas, sebaiknya kamu mencoba gunung yang lebih ramah pemula terlebih dahulu. Beberapa contoh gunung yang relatif aman untuk pendakian pertama adalah Gunung Papandayan, Gunung Prau, dan yang paling mudah, Gunung Munara. Gunung-gunung ini cocok untuk belajar dasar-dasar pendakian tanpa risiko ekstrim.
.
Baca juga: Antisipasi Tersesat Di Gunung? Lakukan Ini Untuk Bertahan Hidup
Tahu Rinjani Tidak Cocok Untuk Pemula Tapi Mau Coba? Ini Syaratnya

Meskipun Gunung Rinjani termasuk gunung yang tidak cocok untuk pendakian pertama, ada kondisi tertentu di mana pemula tetap bisa mencobanya—tentu dengan catatan dan persiapan yang serius.
Jika kamu merasa sudah banyak berlatih, rutin olahraga, dan memiliki kondisi tubuh yang fit, lalu ingin menjajal gunung yang tidak cocok untuk pemula seperti Rinjani, maka wajib hukumnya naik bersama Trekking Organizer (TO).
Bersama Trekking Organizer, pendakianmu akan jauh lebih aman dan terkontrol. Mereka biasanya akan:
- Membawakan sebagian perlengkapan kemah dan masak
- Menyiapkan makanan selama pendakian
- Akan mendirikan dan membongkar tenda
- Menjaga ritme perjalanan agar sesuai kemampuan peserta
Sepanjang jalur, kamu akan didampingi oleh orang-orang yang sudah profesional dan paham karakter Gunung Rinjani. Memang, menggunakan jasa Trekking Organizer berarti kamu harus keluar uang lebih. Tapi untuk gunung dengan risiko setinggi Rinjani, biaya tersebut sebanding dengan keamanan dan kenyamanan yang kamu dapatkan.
Namun, karena ini masih pendakian pertama, sangat disarankan memilih paket pendakian hanya sampai Pelawangan, baik melalui jalur Senaru maupun Sembalun. Jangan mencoba summit terlebih dahulu. Risiko menuju puncak terlalu besar untuk pemula, dan tidak ada pemandangan yang sepadan dengan keselamatan diri sendiri.
Jika kamu ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai pendakian Rinjani yang aman untuk pemula, kamu bisa menghubungi Trekking Organizer Rinjani di hikingmountrinjani.com, atau klik tombol di bawah untuk langsung bertanya via WhatsApp.
Dengan memilih gunung yang sesuai kemampuan dan tidak memaksakan diri, pendakian pertama justru bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membuat kamu jatuh cinta pada dunia gunung. Ingat, gunung akan selalu ada. Keselamatanmu jauh lebih penting daripada sekadar mengejar puncak.
.
