Cara Mencegah Hipotermia Di Gunung – Bagi pendaki pemula, naik gunung sering kali terasa seperti pengalaman yang mengundang dua perasaan sekaligus: antusias dan takut. Antusias karena ingin melihat keindahan alam dari ketinggian, tapi juga takut akan hal-hal yang terdengar menyeramkan, mulai dari cuaca ekstrem, tersesat, hingga risiko hipotermia di gunung.
Hipotermia bukan sekadar “kedinginan biasa”. Kondisi ini bisa berbahaya, bahkan mengancam nyawa, terutama jika terjadi di gunung dengan akses terbatas dan suhu yang terus turun. Banyak kasus hipotermia sebenarnya bukan karena pendaki nekat, melainkan karena kurang persiapan dan salah prioritas dalam membawa perlengkapan.
Karena itu, memahami cara mencegah hipotermia di gunung adalah bekal wajib sebelum kamu benar-benar melangkahkan kaki ke jalur pendakian. Dan tentu saja, dengan pengetahuan ini rasa takut kamu tentang hal buruk yang mungkin akan terjadi saat mendaki akan sedikit berkurang, karena kamu tahu harus apa.
Artikel hikingmountrinjani.com hari ini akan membahas penyebab hipotermia secara mendalam, lalu fokus pada empat alat pendakian paling penting yang wajib kamu prioritaskan kualitasnya. Mahal tidak masalah, karena ini investasi keselamatan jangka panjang, dan hanya perlu dibeli sekali.
Berbagai Penyebab Hipotermia Saat Naik Gunung

Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh turun di bawah batas normal (sekitar 35°C) dan tubuh tidak mampu lagi menghasilkan panas yang cukup. Di gunung, kondisi ini bisa terjadi lebih cepat dibandingkan di dataran rendah, bahkan pada pendaki yang merasa dirinya kuat dan sehat.
Berikut beberapa penyebab utama hipotermia saat naik gunung yang sering dialami pendaki pemula:
1. Pakaian basah dan angin kencang
Pakaian basah karena terkena hujan atau keringat berlebihan dapat membuat tubuh cepat kehilangan panas. Ketika pakaian basah, panas tubuh akan terserap dan suhu tubuh turun drastis.
Apalagi jika kamu tetap menggunakannya saat angin berubah kencang, risiko hipotermia karena kedinginan jadi lebih tinggi. Angin mempercepat penguapan panas dari tubuh. Di ketinggian tertentu, angin malam hari bisa menusuk hingga ke tulang, terutama jika tubuh tidak terlindungi dengan baik.
2. Kelelahan dan kurang asupan energi
Tubuh yang kelelahan akan kesulitan menghasilkan panas. Ditambah lagi jika pendaki kurang makan atau minum selama pendakian, risiko hipotermia akan meningkat karena tubuh kehabisan “bahan bakar”.
3. Salah perlengkapan
Ini faktor yang paling sering diremehkan. Membawa alat seadanya, jas hujan tipis yang mudah rembes, sleeping bag yang tidak sesuai suhu gunung, atau sepatu yang membuat kaki lecet. Semua ini bisa berujung pada kondisi tubuh menurun dan rentan hipotermia.
Karena itu, cara mencegah hipotermia di gunung tidak bisa hanya mengandalkan niat dan fisik, tapi juga alat yang tepat dan berkualitas harus kamu prioritaskan.
.
Baca juga: Jalur Pendakian Rinjani Via Senaru, Bagus Untuk Naik Atau Turun?
Cara Mencegah Hipotermia Di Gunung? 4 Alat Ini Wajib Diprioritaskan
Agar kamu tidak kena hipotermia, apalagi sampai nyasar atau ditinggal karena kondisi tubuh tidak memungkinkan, ada empat barang pendakian yang wajib kamu bawa dan harus diprioritaskan kualitasnya. Jangan ragu mengeluarkan biaya lebih, karena alat-alat ini adalah penopang keselamatanmu di gunung.
1. Jas Hujan

Penyebab utama hipotermia di gunung adalah kedinginan akibat tubuh basah. Oleh karena itu, jas hujan bukan sekadar pelengkap, tapi kunci utama pencegahan hipotermia.
Jas hujan yang baik harus:
- Anti rembes, bukan hanya “tahan gerimis”
- Berbahan cukup tebal dan kuat
- Tidak mudah robek saat terkena semak atau batu
- Nyaman dipakai dalam waktu lama
Sangat disarankan membawa jas hujan setelan atas dan bawah, bukan model ponco tipis. Dengan setelan lengkap, tubuhmu akan tetap kering dari kepala hingga kaki, termasuk celana yang sering luput diperhatikan. Celana basah di suhu dingin bisa menjadi pintu masuk hipotermia tanpa kamu sadari.
Ingat, tujuan jas hujan bukan hanya melindungi dari hujan, tapi menjaga panas tubuh tetap terperangkap di dalam.
2. Headlamp
Banyak pendaki pemula meremehkan headlamp, padahal alat ini sangat penting, terutama jika kamu:
- Mendapat jadwal pendakian malam
- Terpaksa berjalan saat cuaca mendung
- Mengalami keterlambatan turun
Ketika jarak pandang rendah, risiko tersandung, jatuh, atau nyasar meningkat. Jika kamu terjatuh atau berhenti terlalu lama karena bingung arah, tubuh akan cepat kehilangan panas dan berisiko hipotermia.
Sebelum membeli headlamp, pastikan: Bahannya kuat dan tidak ringkih, tahan air (minimal splash proof), baterai awet dan mudah diganti, dan sorotan lampu harus terang dan jaraknya jauh.
Headlamp yang baik akan membuat langkahmu lebih aman dan efisien, sehingga tubuh tidak terlalu lama terpapar dingin karena diam tidak bergerak.
.
Baca juga: Kenapa Naik Gunung Sesak Napas? 3 Tips Agar Napas Kuat
3. Sleeping Bag Cegah Hipotermia Di Gunung

Udara malam di gunung bisa jauh lebih dingin dari yang dibayangkan, terutama di gunung dengan ketinggian 3000 mdpl ke atas seperti Gunung Rinjani. Suhu malam bisa terasa dingin menusuk, bahkan untuk pendaki berpengalaman.
Sleeping bag bukan sekadar alat tidur, tapi alat penyelamat suhu tubuh saat malam hari. Tidur tanpa sleeping bag yang layak akan membuat tubuh terus kehilangan panas sepanjang malam, dan ini sangat berbahaya.
Tips memilih sleeping bag:
- Pilih yang sesuai dengan suhu gunung tujuan
- Utamakan sleeping bag berbahan bulu angsa (down) karena ringan dan sangat hangat
- Pastikan ukurannya pas agar panas tubuh tidak mudah keluar
- Perhatikan juga penutup kepala (hood) untuk melindungi area leher dan kepala
Dengan sleeping bag yang tepat, tidurmu akan lebih nyenyak, tubuh pulih dengan baik, dan risiko hipotermia bisa ditekan.
4. Carrier dan Sepatu

Carrier dan sepatu adalah teman setia pendakianmu. Tanpa keduanya, pendakian hampir mustahil dilakukan dengan aman.
Carrier yang baik akan:
- Membagi beban secara merata ke punggung dan pinggul
- Mengurangi kelelahan
- dan membuatmu lebih stabil saat berjalan
Sepatu gunung yang tepat akan:
- Melindungi kaki dari cedera
- Mengurangi risiko terpeleset
- dan menjaga kaki tetap hangat dan kering
Semakin bagus bahannya dan semakin pas ukurannya, semakin nyaman tubuhmu. Ketika tubuh nyaman dan tidak kesakitan, kamu bisa terus bergerak dengan stabil, dan ini penting untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat.
.
Baca juga: Transportasi ke Gunung Rinjani dari Jakarta Via Darat – Laut 2025
Takut Hipotermia Di Gunung dan Ditinggal Teman? Pergi Bareng TO Aja

Banyak pendaki pemula takut mendaki karena satu hal: takut ditinggal teman ketika kondisi tubuh menurun. Kekhawatiran ini wajar, apalagi jika belum punya pengalaman di medan gunung.
Solusinya? Pergi bareng TO (Trekking Organizer).
TO berisi orang-orang profesional yang sudah paham: Manajemen keselamatan pendakian, penanganan kondisi darurat seperti hipotermia, dan ritme jalan yang aman untuk pendaki pemula.
Selain itu, trekking organizer biasanya menyediakan fasilitas yang membuat pendakian jauh lebih nyaman: makan enak dan kenyang, tidur lebih layak, serta pengaturan logistik yang rapi.
Jika kamu berencana mendaki Gunung Rinjani, kamu bisa menghubungi hikingmountrinjani.com. Trekking organizer tidak akan meninggalkan kamu sendirian dalam kondisi apapun. Dengan bantuan leader dan porter profesional, beban bawaan jadi lebih ringan, dan kamu bisa fokus menikmati perjalanan tanpa dihantui ketakutan akan hipotermia atau ditinggal karena kondisi tubuh tidak memungkinkan.
Mau naik Gunung Rinjani? Klik Whatsapp di bawah.
Mereka akan membantumu mempersiapkan itinerary pendakian yang sesuai dengan budget dan keinginanmu, sekaligus memastikan pengalaman pertamamu di gunung tetap aman, nyaman, dan berkesan.
.
