Jalur Rinjani Via Senaru – Gunung Rinjani selalu menjadi magnet bagi pendaki—baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Namun meskipun namanya populer, ada satu fakta menarik: jalur Senaru justru lebih sering dipilih turis asing dibanding pendaki Indonesia. Banyak pendaki lokal merasa ragu mencoba jalur ini karena reputasinya yang dikenal panjang, panas, dan menantang.
Padahal, sebelum jalur Torean dibuka secara resmi, kombinasi rute paling populer adalah naik dari Sembalun dan turun lewat Senaru. Turis asing sudah bertahun-tahun menjadikan rute ini favorit mereka. Jadi wajar jika banyak pendaki lokal mulai penasaran: sebenarnya, se-extreme apa sih jalur Rinjani via Senaru?
Artikel ini membahas secara mendalam. Berangkat dari pengalaman lapangan langsung para pendaki, ditambah penjelasan teknis soal kondisi trek, medan, durasi perjalanan, sampai alasan kenapa jalur ini mendapat julukan “Hot and Chili”.
Apa Itu “Hot and Chili” di Jalur Rinjani Via Senaru?

“Hot and chili”—begitulah istilah yang sering keluar dari mulut para pendaki saat melewati titik-titik tertentu di jalur Senaru. Frasa itu bukan sekadar bercanda; itu benar-benar menggambarkan kondisi trek yang ekstrem.
Bayangkan matahari tepat di atas kepala, tanpa naungan pohon. Sinar yang begitu kuat membuat kulit terasa perih. Debu berterbangan setiap kali angin menerpa, sementara udara kering menempel di tenggorokan. Perpaduan panas menyengat dan angin dingin yang menampar wajah membuat trek ini sangat menguras tenaga.
Namun sensasi “Hot and Chili” ini tidak langsung muncul sejak awal pendakian. Panas ekstrem biasanya mulai benar-benar terasa ketika kamu memasuki area Jaran Kurus, mendekati Pos 4: Cemara Lima.
Beberapa pendaki mungkin mengenal istilah “Jaran Kurus” dari jalur Torean. Tetapi versi asli spot ini ternyata berada di jalur Senaru. Dari sinilah medan mulai terbuka sepenuhnya tanpa perlindungan dari pepohonan. Trek panjang dan monoton membuat banyak pendaki mulai kehilangan tenaga.
Bagian inilah yang memunculkan reputasi Senaru sebagai jalur yang panas, panjang, dan melelahkan, khususnya saat cuaca sedang cerah tanpa awan.
.
Baca juga: Pendakian Rinjani Via Senaru 2D1N Tanpa Summit, Mau Coba?
Jalur Rinjani Via Senaru Seberapa Extrem? Ini Gambarannya
Untuk menjawab pertanyaan seberapa ekstremnya Senaru, kamu perlu melihat gambaran perjalanan dari awal hingga Pelawangan. Setiap segmen memiliki karakter yang berbeda, dan semuanya berkontribusi pada reputasi jalur ini.
Sebelum jalur Torean semakin populer, rute Senaru adalah pintu masuk utama pendakian Rinjani. Banyak turis asing menggunakannya sampai sekarang, sebagian besar memilih paket trekking 2 hari 1 malam yang hanya sampai Pelawangan Senaru.
1. Perjalanan Menuju KM 2

Pendakian diawali dengan jalur yang langsung menanjak, tetapi tidak ekstrem. Ritmenya stabil dan enak diikuti.
Setelah sekitar dua jam perjalanan dengan beberapa kali berhenti, kamu akan tiba di angka patokan KM 2. Namun angka ini bukan patokan resmi, karena papan petunjuk biasanya dipasang ulang oleh petugas saat rute dibersihkan. Perhitungan yang benar: sekitar 2 km dari pintu hutan.
Dari KM 2, sekitar 500 meter kemudian terdapat pos ekstra. Banyak pendaki memilih istirahat di sini, terutama jika belum mengambil jeda sejak start. Waktu yang dihabiskan sejak memasuki pintu masuk hingga tempat ini sekitar 2 jam perjalanan. Pos ini menjadi tempat yang tepat untuk mengatur nafas sebelum menuju Pos 2.
2. Pos 1: Bunut Ngenkang (Legenda Pohon Berkaki Tiga)
Sebelum pos ekstra, sebenarnya ada Pos 1: Bunut Ngenkang. Dulu terdapat pohon beringin dengan tiga akar besar yang membentuk terowongan alami. Pendaki harus berjalan di bawah “kaki-kakinya”. Namun sayang, pohon bersejarah itu tumbang pada awal 2000-an.
Rute dari pos ekstra ke Pos 2 adalah salah satu yang terpanjang di jalur Senaru, sekitar 3 km. Para guide menyebut bagian ini sebagai area “bonus”, tetapi bonusnya adalah tanjakan, bukan dataran. Jadi jangan terkecoh dengan istilah itu.
Di perjalanan, kamu akan melewati hamparan tanaman pandan yang dipakai warga setempat untuk membuat tikar. Meski jalur panjang dan menanjak, suasana akan cukup cair jika bisa membuka obrolan ringan atau candaan dengan guide dan rombongan .
3. Montong Satas ke Pos 3
Setelah berjalan sekitar 3 jam lebih dari start, akhirnya kamu akan tiba di Pos 2: Montong Satas. Nama ini berarti “bukit tertinggi”. Area pos ini cukup luas, dan biasanya menjadi tempat makan siang pendaki yang naik dari Senaru.
Akses ke sumber air berada sekitar 30 menit dari pos.
- Total jarak ke Pos 2: ±4 km.
- Total waktu tempuh: ±3 jam–3 jam 40 menit.
Dari Pos 2 ke Pos 3 jaraknya sekitar 2,7 km. Medannya tidak terlalu terjal, tetapi panjang dan mulai terasa karena pendaki sudah berjalan sejak siang. Angin mulai dingin, jalur mulai terbuka, dan pemandangannya sangat indah terutama menjelang matahari terbenam.
Di tengah perjalanan, ada pos ekstra lagi sebelum Pos 3. Jika waktu sudah cukup gelap, sebaiknya bermalam di pos ini. Jarak menuju Pos 3 sekitar 200 meter lagi dengan jalur yang cukup datar.
4. Pos 3 Menuju Cemara Lima

Setelah sekitar 3 jam 40 menit perjalanan dari Pos 2, kamu akan mencapai Pos 3. Dari sinilah pendakian mulai terasa semakin menantang.
Pendaki memasuki bagian yang disebut sebagai “tanjakan penyesalan versi Senaru”. Jejak tanah kering, medan yang terbuka, dan debu semakin tebal. Di titik inilah kamu memasuki kawasan Jaran Kurus—area panjang tanpa perlindungan, sangat terbuka, dan sinar matahari terasa membakar kulit.
Setelah mendaki hampir dua jam, kami tiba di Pos 4 yang bernama Cemara Lima. Dahulu ada lima pohon cemara besar di sini, tetapi sekarang tinggal empat karena satu sudah tumbang. Nama aslinya tetap dipakai oleh porter, sebagai tanda sejarah jalur ini.
Pos 4 sebenarnya tidak jauh dari Pelawangan Senaru. Namun yang membuat perjalanan terasa sangat berat adalah panas ekstrem akibat medan terbuka. Kepala terasa berdenyut dan tubuh seperti dipanggang matahari.
5. Trek Berbatu, Pertanda Pelawangan Sudah Dekat

Setelah Pos 4, medan berubah menjadi bebatuan. Banyak pendaki justru lebih nyaman berjalan di batu daripada melewati tanah berdebu. Jalur mulai berbelok ke kanan—tanda bahwa Pelawangan Senaru sudah dekat.
Jarak dari Pos 4 ke Pelawangan hanya sekitar 700 meter. Pendek secara angka, namun terasa panjang ketika panas sedang menyengat.
Saat mencapai ketinggian lebih tinggi, pemandangan mulai terbuka. Kamu bisa melihat Gunung Agung di Bali berdiri megah di kejauhan.
Di sinilah pengalaman “Hot and Chili” mencapai puncaknya: angin dingin menerpa wajah, tetapi sinar matahari tetap menyengat tanpa kompromi.
.
Baca juga: Jalur Pendakian Rinjani Via Senaru, Bagus Untuk Naik Atau Turun?
Mau Mendaki Rinjani Via Senaru? Yuk Bareng Hiking Mount Rinjani

Jalur Senaru memang menjadi pilihan favorit turis mancanegara. Hampir setiap jam kamu bisa berpapasan dengan rombongan pendaki asing atau porter yang turun dari Pelawangan. Banyak dari mereka memilih paket trekking 2 hari 1 malam, cukup sampai Pelawangan lalu turun esok paginya.
Jika kamu ingin merasakan pengalaman yang sama, kamu bisa memilih paket pendakian 2 hari 1 malam sampai Pelawangan Senaru. Namun jika kamu ingin lanjut ke puncak Rinjani dan turun lewat Torean, persiapan fisik dan waktu harus lebih matang. Idealnya 4 hari 3 malam agar perjalanan tidak terlalu memaksa.
Hiking Mount Rinjani menyediakan pendakian lengkap untuk berbagai kebutuhan, baik untuk pemula maupun pendaki yang ingin mencoba kombinasi trek lebih panjang. Bersama kami, semua persiapan dan pendakian akan lebih mudah. Itinerary juga bisa custom loh!
Harganya terjangkau, apalagi banyak orang dalam 1 tim. Yuk, daftarkan dirimu dan rombonganmu sekarang.
Whatsapp kami segera, dan mari naik Rinjani bersama!
.
